<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-4732987862050474421</id><updated>2011-04-21T14:20:30.402-07:00</updated><title type='text'>YUNIAR KUSTANTO</title><subtitle type='html'>Mahasiswa PKN Fakultas Ilmu Sosial
UNNES</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://yuniarkustanto.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4732987862050474421/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://yuniarkustanto.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>YUNIAR KUSTANTO</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14852318129907470724</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>3</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4732987862050474421.post-7937164540345015571</id><published>2008-11-23T06:36:00.000-08:00</published><updated>2008-11-23T06:37:15.409-08:00</updated><title type='text'>Saatnya Kaum Muda memimpin</title><content type='html'>Himmatus syabab, hikmatus syukhuh*". Semangat pemuda dan kebijaksanaan&lt;br /&gt;seorang tua. Demikian sebuah adagium Arab mengatakan. Itulah gambaran ideal&lt;br /&gt;karakter seorang pemimpin. Ia bersemangat berapi-api seperti pemuda dan&lt;br /&gt;bijaksana laksana orang tua. Tentang kebijaksanaan, Victor Frankl, pakar&lt;br /&gt;psikologi kenamaan, mengatakan bahwa mereka yang mampu memaknai setiap&lt;br /&gt;aktivitasnya dalam hidup memiliki kekuatan untuk bertahan hidup di dunia&lt;br /&gt;yang fana ini.&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Bersemangat dan bijaksana. Dua hal yang saling melengkapi dan tak jarang&lt;br /&gt;menjadi kontroversi. Seperti wacana "presiden muda versus presiden tua" yang&lt;br /&gt;disuarakan salah satu pimpinan parpol Islam yang bergayung sambut dengan&lt;br /&gt;tantangan bersaing di panggung pemilihan presiden 2009 dari salah satu calon&lt;br /&gt;presiden dari sebuah partai terbesar di Indonesia saat ini.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Pemuda, seperti yang asosiasi yang melekat padanya, mewakili sesuatu yang&lt;br /&gt;baru, perubahan. Wacana serupa yang juga diusung Barack Obama, 47 tahun,&lt;br /&gt;calon presiden Amerika Serikat dari Partai Demokrat yang bertema "*the&lt;br /&gt;change we can believe in*". Perubahan dan memercayai perubahan, itulah&lt;br /&gt;semangat muda yang diusung Obama yang juga didukung mayoritas kalangan muda&lt;br /&gt;Amerika Serikat.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Yang unik, seperti adagium di atas, Obama yang merupakan kandidat presiden&lt;br /&gt;keturunan Muslim dan kulit hitam pertama di negara adikuasa tersebut&lt;br /&gt;menggandeng seorang politisi kawakan berusia 65 tahun – yang dianggap&lt;br /&gt;berpengalaman dalam persoalan internasional – Joe Biden sebagai kandidat&lt;br /&gt;wakil presiden. Di sisi lain, lawan Obama yang dianggap sebagai kalangan tua&lt;br /&gt;– John McCain – yang merupakan kandidat presiden AS tertua sepanjang&lt;br /&gt;sejarah, 72 tahun, juga menggaet Sarah Palin, seorang gubernur negara bagian&lt;br /&gt;Alaska, berusia 44 tahun sebagai kandidat wakil presiden. Sepertinya mereka&lt;br /&gt;percaya betul dengan adagium di atas. Lalu bagaimana dengan kita di&lt;br /&gt;Indonesia?&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;*Muda versus tua?*&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Wacana "presiden muda versus presiden tua" di Indonesia yang sempat hangat&lt;br /&gt;bergulir di media massa, konon, melemah tuahnya seiring sedemikian banyaknya&lt;br /&gt;*statement *perelatifan yang dilakukan kalangan politisi di Indonesia – yang&lt;br /&gt;didominasi kalangan berusia 50-an tahun ke atas – yang gencar menyerukan&lt;br /&gt;bahwa kualitas kepemimpinan tak memandang usia atau wacana tua-muda hanya&lt;br /&gt;memecah belah bangsa. Sangat disesalkan wacana berharga yang sebetulnya bisa&lt;br /&gt;menjadi gelindingan diskursus yang lebih serius dan formal mengenai peran&lt;br /&gt;kepemimpinan pemuda dalam bangsa Indonesia ini layu sebelum berkembang.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sebetulnya, berpijak dari wacana tersebut, kita sebagai anak bangsa dapat&lt;br /&gt;merangkai dan mengurut secara historis rekam jejak kontribusi pemuda dalam&lt;br /&gt;kepemimpinan bangsa ini. Setidaknya sejak Sumpah Pemuda tahun 1928, sebagai&lt;br /&gt;titik tolak bersama. Selanjutnya, berdasarkan kajian historis dan tinjauan&lt;br /&gt;kekinian tersebut niscaya ada input produktif dan potensial bagi narasi&lt;br /&gt;besar bangsa ini tentang konsep kepemimpinan bangsa ke depan, yang&lt;br /&gt;jangkauannya tidak hanya sebatas hingga Pemilu 2009 tapi beberapa dekade ke&lt;br /&gt;depan. Minimal dapat membuahkan sebuah konsep regenerasi atau suksesi&lt;br /&gt;kepemimpinan negara yang teratur dan bervisi – namun dengan lebih humanis&lt;br /&gt;dan demokratis -- seperti yang diterapkan Lee Kuan Yew di Singapura. Sayang&lt;br /&gt;realitas politik praktis negeri ini terlalu kejam memangsa buah ide brilian&lt;br /&gt;dari anak bangsanya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Namun di sisi lain, sebagai pemuda, kita layak mengevaluasi dan&lt;br /&gt;berintrospeksi apakah kontrbusi pemuda dalam kepemimpinan bangsa (baca:&lt;br /&gt;kepemimpinan pemuda) yang selama ini didengung-dengungkan – di mana&lt;br /&gt;peristiwa Sumpah Pemuda secara kolektif dikenang sebagai tonggak historis –&lt;br /&gt;merupakan mitos atau fakta. Sebagai komunitas atau bangsa, sesuai fungsinya,&lt;br /&gt;kadang mitos memang diperlukan untuk membangkitkan semangat atau&lt;br /&gt;membangkitkan kenangan heroik nan patriotik. Namun, mitos yang kelewat megah&lt;br /&gt;juga acapkali membelenggu dan memanjakan para pengagum yang menganggapnya&lt;br /&gt;sebagai hal yang *taken for granted*, diberikan begitu saja. Padahal&lt;br /&gt;realitas keseharian kita membuktikan bahwa *no free lunch*, tidak ada hal&lt;br /&gt;yang gratis alias diberikan begitu saja. Semua perlu ikhtiar dan tekad kuat.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Memang versi resmi rekaman sejarah nasional berbicara bahwa pada setiap&lt;br /&gt;pergolakan kekuasaan di negeri ini kalangan muda selalu tampil terdepan.&lt;br /&gt;Bahkan jauh sebelum 1928, pada tahun 1905, H. Samanhudi sebagai tokoh muda&lt;br /&gt;pedagang batik dari Semarang tampil membangun SDI (Serikat Dagang Islam)&lt;br /&gt;sebagai organisasi perjuangan melawan dominasi penjajahan. Tahun 1908, dr.&lt;br /&gt;Soetomo dari STOVIA, sebuah sekolah dokter Jawa yang didirikan Belanda,&lt;br /&gt;mendirikan Boedi Utomo. Gerakan-gerakan perjuangan kebangsaan tersebut&lt;br /&gt;memuncak pada 1928 ketika berbagai *jong* atau *bond *pemuda dari berbagai&lt;br /&gt;penjuru nusantara menyatukan tekad kebangsaan pada Kongres Pemuda II di&lt;br /&gt;Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Saat proklamasi 1945, Soekarno dkk yang berusia 45-an tahun bergerak&lt;br /&gt;mendeklarasikan kemerdekaan Indonesia. Tahun 1966, Soe Hoek Gie dkk gantian&lt;br /&gt;menggulingkan rezim Orde Lama yang dipimpin Soekarno – tokoh pemuda yang&lt;br /&gt;berubah menjadi tiran. Tahun 1974, Hariman Siregar dkk menggoyang dominasi&lt;br /&gt;produk Jepang di Indonesia di bawah rezim Orde Baru pimpinan Soeharto. Tahun&lt;br /&gt;1998, gerakan reformasi 1998 yang dimotori kalangan mahasiswa melengserkan&lt;br /&gt;Soeharto -- seorang perwira muda berusia 46 tahun yang menggantikan Soekarno&lt;br /&gt;sebagai presiden Republik Indonesia melalui Surat Perintah Sebelas Maret&lt;br /&gt;(Supersemar) 1966 – dan menjelma menjadi diktator yang berkuasa selama 32&lt;br /&gt;tahun. Selepas 1998 pun berbagai aksi demonstrasi – sebuah fakta yang kasat&lt;br /&gt;mata – banyak dilakukan pemuda dalam hal ini kalangan mahasiswa dan&lt;br /&gt;intelektual muda.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Apakah semua itu murni kontribusi pemuda? Tidakkah kelewat berat beban&lt;br /&gt;sejarah tersebut dipanggul sendirian oleh kalangan muda sebagai satu&lt;br /&gt;kalangan dari banyak elemen penyusun sebuah bangsa?&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Maaf, jika terkesan terlalu skeptis. Seperti kata Rene Descartes, "*I think&lt;br /&gt;therefore I am*." Untuk menemukan kebenaran, salah satunya, kita harus&lt;br /&gt;mempertanyakan banyak hal secara kritis. Termasuk terhadap diri kita&lt;br /&gt;sendiri.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Kahlil Gibran berkata, "Kita semuanya terpenjara, namun beberapa di antara&lt;br /&gt;kita berada dalam sel berjendela. Dan beberapa lainnya dalam sel tanpa&lt;br /&gt;jendela." Nah, haruskah kita terpenjara dalam berbagai dikotomi yang&lt;br /&gt;menyekat kehidupan sosial bangsa seperti nasionalis-religius, tua-muda, atau&lt;br /&gt;ortodoks-progresif?&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;*Siapakah pemuda?*&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Ada tiga hal yang merupakan ciri pemuda: perubahan, semangat dan&lt;br /&gt;kemandirian. Perubahan sarat dengan muatan visi, gagasan, kepedulian dan&lt;br /&gt;harapan. John C. Maxwell berujar, "Orang tidak peduli seberapa banyak yang&lt;br /&gt;Anda ketahui, hingga mereka tahu seberapa jauh Anda peduli."  Dalam *The&lt;br /&gt;Seven Habits for Highly Effective People*, Stephen R. Covey berpesan,&lt;br /&gt;"Taburlah gagasan petiklah perbuatan; taburlah perbuatan petiklah kebiasaan;&lt;br /&gt;taburlah kebiasaan petiklah karakter; taburlah karakter petiklah nasib."&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Harapan, menurut Ary Ginanjar Agustian dalam bukunya berjudul *ESQ *(*Emotional&lt;br /&gt;Spiritual Quotient*), 2005, adalah bahwa saat kita berjanji, sesungguhnya&lt;br /&gt;kita menarik energi suara hati orang lain secara besar-besaran. Inilah yang&lt;br /&gt;dinamakan harapan. Lalu energi itu kita bawa pulang, dan jika tidak kita&lt;br /&gt;kembalikan ke sumbernya, keseimbangan orang lain akan terganggu. Harapan&lt;br /&gt;(akan realisasi janji tersebut) telah kita tarik, dan belum kita kembalikan&lt;br /&gt;(baca: janji belum terealisasi). Percayalah, setiap aksi akan menimbulkan&lt;br /&gt;reaksi.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sementara semangat mewakili aksioma optimisme dan proaktif. Menurut Stephen&lt;br /&gt;R Covey, "Sikap proaktif sangat berguna bagi manusia terutama dalam&lt;br /&gt;menghadapi rintangan maupun dalam berinteraksi dengan manusia lain. Sikap&lt;br /&gt;proaktif menunjukkan tingkat kecerdasan emosional yang tinggi." Lawan&lt;br /&gt;proaktif adalah reaktif, lagi-lagi meminjam istilah Stephen R. Covey, "Reaktif&lt;br /&gt;adalah sikap seseorang yang gagal membuat pilihan respon saat mendapat&lt;br /&gt;rangsangan atau stimulus dari orang lain."&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Dan kemandirian mewakili muatan kritisisme dan nalar. "Menerima ide-ide&lt;br /&gt;tanpa berpikir merupakan virus yang meracuni kebutuhan manusia akan&lt;br /&gt;pembebasan, berolah nalar, bertanya dan berimajinasi," ujar Milan Kundera.&lt;br /&gt;Menurut sastrawan dan cendikiawan dunia ini, hal tersebut menelan individu&lt;br /&gt;dalam kerumunan kolektif. Kebutuhan manusia akan individualitas, prinsip dan&lt;br /&gt;orisinalitas lenyap dalam komunalitas tanpa makna. Ya, komunalitas tanpa&lt;br /&gt;makna inilah yang saat ini, dalam konteks lokal, dalam salah satu bentuknya&lt;br /&gt;menjelma dalam demonstrasi atau tawuran brutal.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Dalam 80 tahun (1908-2008) kontribusi pemuda dalam kepemimpinan bangsa,&lt;br /&gt;hukum besi semesta tersebut telah terbukti dalam berbagai bentuknya.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Namun, ada sebuah pertanyaan besar lain: apakah *pemuda *lebih merupakan&lt;br /&gt;kata sifat atau kata benda? Perhatikan berbagai fakta sejarah tersebut di&lt;br /&gt;atas. Sebagai kata sifat, ia tak butuh rupa fisik yang gagah. Sepanjang ia&lt;br /&gt;memiliki semangat dan visi perubahan, ia adalah *pemuda*. Meskipun seorang&lt;br /&gt;gaek sekalipun seperti Abdurrahman Wahid yang berusia 68 tahun. Sebagai kata&lt;br /&gt;benda, ia memang harus muda, cergas dan lincah selayaknya Barack Obama. Tapi&lt;br /&gt;banyak orang-orang muda gagah, berusia belia yang pemikirannya hanya&lt;br /&gt;mengkopi ide-ide lama bahkan anti perubahan. Apakah mereka layak disebut *&lt;br /&gt;pemuda* dalam artian sebenarnya?&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Singkatnya, secara ideal, pemuda adalah kata sifat dan kata benda. Seorang&lt;br /&gt;pemuda selain berusia muda (di bawah 50 tahun) juga memiliki visi perubahan&lt;br /&gt;(ke arah yang lebih baik) dan memiliki semangat antusiasme yang besar.&lt;br /&gt;Demikian juga soal *hikmatus syukhuh*, kebijaksanaan, yang erat&lt;br /&gt;diasosiasikan dengan *privilege* kalangan tua—bahkan terkesan&lt;br /&gt;dilegitimasikan dengan RUU Mahkamah Agung (MA) yang memperpanjang usia&lt;br /&gt;pensiun hakim agung hingga usia 70 tahun – adalah hal yang juga lebih&lt;br /&gt;merupakan kata sifat. Seorang pemuda, dengan intensitas dan interaksinya,&lt;br /&gt;dapat memiliki kebijaksanaan tersebut dalam satu wujud. Tak perlu harus&lt;br /&gt;dalam satu paket tua-muda seperti pola pencalonan kandidat presiden dan&lt;br /&gt;wakil presiden di Amerika Serikat yang terkesan melestarikan dikotomi abadi&lt;br /&gt;tersebut.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Jika ada standar saklek, itulah perubahan. Pemuda adalah perubahan. Itu&lt;br /&gt;harga mati. Soekarno muda pada 1945 – tatkala usia 45 tahun--adalah seorang&lt;br /&gt;pendobrak. Tapi ketika ia tak mau berubah, ia menjadi tiran, dan menua.&lt;br /&gt;Soeharto muda mendobrak ekonomi bangsa selepas 1966 dengan konsep&lt;br /&gt;pembangunan Repelita terencana. Tapi ketika ia tak mau berubah baik karena&lt;br /&gt;alasan kroni atau korupsi, ia anti perubahan, ia menua. Lagi-lagi pemuda&lt;br /&gt;adalah perubahan. Demikian hukum semesta yang berlaku pada kalangan&lt;br /&gt;pergerakan dari Akbar Tanjung dkk (1966), Hariman Siregar dkk maupun&lt;br /&gt;kalangan aktivis pergerakan 98 dan angkatan-angkatan pemuda yang akan terus&lt;br /&gt;bermunculan.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;*Yang muda yang memimpin*&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Dalam kutipan panjangnya, Ary Ginanjar Agustian mengatakan,"Manajemen adalah&lt;br /&gt;mengerjakan segalanya secara benar (*do the things right*); kepemimpinan&lt;br /&gt;adalah mengerjakan hal-hal yang benar (*do the right thing*). Manajemen&lt;br /&gt;melakukan efisiensi dalam menaiki tangga keberhasilan; sedangkan&lt;br /&gt;kepemimpinan adalah menentukan apakah tangganya bersandar pada dinding yang&lt;br /&gt;benar."&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Untuk menentukan keberhasilan sang peletak tangga, kita memerlukan sumber&lt;br /&gt;komitmen. Di level korporasi, Kouzes dan Postner (*Leadership Challenge*,&lt;br /&gt;2002) mengatakan bahwa sumber komitmen yang tinggi bukanlah pada kokohnya *core&lt;br /&gt;values* perusahaan tetapi lebih kepada *personal values* (nilai-nilai&lt;br /&gt;pribadi) karyawan yang kokoh. Karena justru nilai pribadilah yang&lt;br /&gt;sesungguhnya lebih tercermin dalam praktik kerja sehari-hari, bukan nilai&lt;br /&gt;perusahaan. Inilah yang disebut *spiritual capital, *modal spiritual. Hal&lt;br /&gt;ini dapat diproyeksikan dalam skup yang lebih luas yakni bangsa. Kita perlu&lt;br /&gt;lapisan (baca: bukan hanya seorang tokoh atau pemimpin tunggal) pemimpin&lt;br /&gt;yang berkomitmen berdasarkan modal spiritual.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Dalam konteks anatomi sejarah peradaban, kepemimpinan pemuda adalah hal yang&lt;br /&gt;alamiah, fitrah. Di usia tua, seseorang cenderung lebih banyak berpikir dan&lt;br /&gt;akibatnya cenderung lebih ragu atau takut memulai untuk sesuatu yang baru.&lt;br /&gt;Sementara pemuda, dengan kemudaannya dan semangat menyala, cenderung&lt;br /&gt;bertindak.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Namun, dalam banyak riwayat perjalanan sejarah, kalangan tua terbukti banyak&lt;br /&gt;menyokong kalangan muda. Ini artinya kepemimpinan muda bukanlah hal yang&lt;br /&gt;kelewat istimewa atau megah, yang harus dipuja-puja dengan meninggalkan atau&lt;br /&gt;bahkan menginjak kalangan tua. Ia hanyalah merupakan pergiliran alamiah.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Maka membincangkan kontribusi pemuda dalam kepemimpinan bangsa adalah&lt;br /&gt;membincangkan suatu bangsa secara utuh, tak bisa terlepas dari kontribusi&lt;br /&gt;elemen bangsa yang lain termasuk kalangan tua. Dalam teori *marketing*,&lt;br /&gt;semua segmen sama, dan pemuda hanyalah merupakan satu segmen yang tingkat&lt;br /&gt;urgensinya tergantung konteks. Jadi kepemimpinan pemuda adalah suatu fakta.&lt;br /&gt;Tapi ia bukan pemuda *an-sich*. Ia adalah bagian elemen anak bangsa yang&lt;br /&gt;tidak bisa berdiri sendiri. Dalam sebuah keluarga besar tak semua harus maju&lt;br /&gt;terdepan. Tak lantas setiap orang muda membawa perubahan. Pemuda adalah kata&lt;br /&gt;sifat dan kata benda, dan standarnya adalah perubahan. Sekalipun ia berusia&lt;br /&gt;muda namun hanya membawa ide lama maka ia telah gagal sebagai&lt;br /&gt;*pemuda*kendati mengusung bendera ormas pemuda dengan gegap-gempita.&lt;br /&gt;Dan ia tak&lt;br /&gt;layak sebagai pemegang estafet untuk menentukan ke arah mana tangga bangsa&lt;br /&gt;akan disandarkan,&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Seperti kata Isaac Newton, "*I could see farther because I was standing on&lt;br /&gt;the giants' shoulders*." Jika para pemuda dapat memandang lebih jauh ke&lt;br /&gt;depan, itu juga karena berpijak pada pengalaman dan kontribusi para raksasa&lt;br /&gt;tua sebelumnya*. *Alangkah indahnya jika bangsa ini dapat menghapus segala&lt;br /&gt;sekat dan dikotomi sosial yang ada dengan memerhatikan hukum besi semesta&lt;br /&gt;dan sejarah bangsa yang merupakan *sunnatullah *bahwa adalah hak dan&lt;br /&gt;kewajiban orang muda sebagai pemimpin dengan bimbingan kalangan yang lebih&lt;br /&gt;tua sebagai pemandu. Jika demikian adanya, sebagai bangsa, kita *Insya Allah&lt;br /&gt;* sangat yakin bahwa negeri ini pasti akan bangkit menjadi bangsa yang besar&lt;br /&gt;sebagaimana sejarahnya di masa lampau. Percayalah, harapan itu masih ada.*&lt;br /&gt;****&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;* Selamat 80 Tahun Sumpah Pemuda! Jayalah pemuda Indonesia!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4732987862050474421-7937164540345015571?l=yuniarkustanto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://yuniarkustanto.blogspot.com/feeds/7937164540345015571/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://yuniarkustanto.blogspot.com/2008/11/saatnya-kaum-muda-memimpin_23.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4732987862050474421/posts/default/7937164540345015571'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4732987862050474421/posts/default/7937164540345015571'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://yuniarkustanto.blogspot.com/2008/11/saatnya-kaum-muda-memimpin_23.html' title='Saatnya Kaum Muda memimpin'/><author><name>YUNIAR KUSTANTO</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14852318129907470724</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4732987862050474421.post-4334692935910728842</id><published>2008-11-23T06:08:00.001-08:00</published><updated>2008-11-23T06:08:36.664-08:00</updated><title type='text'>Tantangan Kepemimpinan Muda</title><content type='html'>&lt;p&gt;Wacana kepemimpinan oleh kaum muda terus berembus kencang. "Saatnya kaum&lt;br /&gt;muda memimpin" bergerak menjadi narasi besar pada tahun ini. Gaungnya makin&lt;br /&gt;membumi tatkala Pemilu 2009 makin di depan mata. Kepemimpinan kaum muda&lt;br /&gt;menjadi sesuatu yang dirindukan kehadirannya. Lahir dari keresahan akan&lt;br /&gt;hegemoni kaum tua dalam lingkaran kepemimpinan nasional.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Hasrat itu kian menguat manakala menyaksikan kegagalan kaum tua dalam menata&lt;br /&gt;dan memberdayakan bangsa ini. Kaum tua dianggap telah membawa bangsa ini&lt;br /&gt;menuju jurang kehancuran yang kian dalam. Kepemimpinan kaum muda pun&lt;br /&gt;disodorkan sebagai solusi karena kaum muda dianggap memiliki kompetensi,&lt;br /&gt;integritas, kapabilitas, kreativitas, progresivitas, dan idealisme.&lt;br /&gt;Keterbebasan kaum muda dari dosa masa lalu melahirkan harapan adanya&lt;br /&gt;komitmen moral untuk membangun bangsa ini secara lebih baik.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Kaum Muda di Pentas Dunia&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sebelum 'demam Obama' melanda dunia, kita sudah disuguhkan para pemimpin&lt;br /&gt;baru di pentas politik dunia yang memimpin negaranya sebelum mencapai usia&lt;br /&gt;50 tahun. Dari Amerika Latin muncul Evo Morales, Presiden Bolivia yang&lt;br /&gt;berusia 49 tahun. Mahmoud Ahmadinejad terpilih menjadi Presiden Iran pada&lt;br /&gt;usia 49 tahun. Barack H. Obama yang sempat sekolah di sebuah sekolah dasar&lt;br /&gt;negeri di Menteng, Jakarta Pusat, kini dalam usianya yang ke 47 tahun,&lt;br /&gt;menjadi calon kuat presiden Amerika Serikat. Mereka bukan sekedar mengisi&lt;br /&gt;sejarah kepemimpinan negaranya, tetapi menjadi idola baru, simbol perlawanan&lt;br /&gt;dan juga harapan bangsanya.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Kendala Kaum Muda&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Namun kepemimpinan kaum muda tentu saja bukan sesuatu yang mudah diraih.&lt;br /&gt;Terlebih sistem rekruitmen politik dan kepemimpinan nasional saat ini tidak&lt;br /&gt;cukup leluasa memberi ruang bagi kaum muda. Kaum muda Indonesia harus mampu&lt;br /&gt;menjawab tantangannya sendiri. Terdapat sejumlah kendala yang bisa&lt;br /&gt;menghadang kaum muda untuk tampil dan berperan dalam pentas politik Tanah&lt;br /&gt;Air. Pertama faktor pengalaman. Umumnya kaum muda bisa dibilang miskin&lt;br /&gt;pengalaman  dalam "memikat" hati rakyat. Seseorang bisa tampil di panggung&lt;br /&gt;utama politik jika dipilih oleh rakyat. Oleh karena itu kemampuan "memikat"&lt;br /&gt;hati rakyat menjadi sangat penting.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Statistik hasil pemilihan kepala daerah membuktikan kaum tua masih cukup&lt;br /&gt;dominan memenangi pilkada. Masyarakat belum yakin dengan kepemimpinan kaum&lt;br /&gt;muda karena belum cukup informasi dan bukti tentang kemampuan kaum muda.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Kedua, faktor "perlawanan" kaum tua yang masih memegang kuat hasrat&lt;br /&gt;kekuasaan mereka. Sudah pasti ini akan menghambat laju kaum muda menuju&lt;br /&gt;pentas utama politik baik di pusat maupun daerah. Ini dibuktikan dengan&lt;br /&gt;sering tenggelamnya isu kepemimpinan kaum muda dengan dalih tidak ada&lt;br /&gt;ketentuan perundangan soal usia pemimpin. Isu pemimpin muda juga sering&lt;br /&gt;ditekan dengan alasan kaum muda belum terbukti berhasil dalam kepemimpinan.&lt;br /&gt;Dari sudut sistem politik, sinyalemen itu bisa dibuktikan dengan membedah&lt;br /&gt;sistem dan mekanisme partai politik yang dirancang sedemikian sehingga sulit&lt;br /&gt;bagi kaum muda untuk menggeser posisi kaum tua.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Faktor ketiga adalah tantangan "mengendalikan" birokrasi manakala kaum muda&lt;br /&gt;sudah berhasil menggenggam kekuasaan. Kita bisa belajar dari kepemimpinan&lt;br /&gt;Ahmad Heryawan-Dede Yusuf (Hade) di Jawa Barat. Dibutuhkan waktu lebih dari&lt;br /&gt;100 hari pemerintahan mereka untuk melakukan reformasi birokrasi. Ini tak&lt;br /&gt;lepas dari fakta bahwa lebih dari 90 persen level kepemimpinan di birokrasi&lt;br /&gt;adalah kaum tua yang banyak terkait persoalan masa lalu.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Gagasan Perubahan&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Namun demikian meski menghadapi aneka tantangan di atas, kaum muda harus&lt;br /&gt;terus maju karena bangsa ini membutuhkan pemimpin baru yang memiliki&lt;br /&gt;semangat, idealisme, integritas, dan terutama komitmen moral untuk membangun&lt;br /&gt;bangsa. Kaum muda harus aktif memberi pencerahan politik sehingga masyarakat&lt;br /&gt;terlibat dalam arus revolusi kepemimpinan di bilik-bilik suara.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sebagai langkah awal kaum muda harus memberi bukti kepada rakyat bahwa kaum&lt;br /&gt;muda membawa perubahan bangsa. Kita dapat belajar dari Barack Obama yang&lt;br /&gt;mampu memikat hati masyarakat AS, bahkan masyarakat dunia melalui&lt;br /&gt;penyampaian visi dan gagasan pembangunannya.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Jadi, kaum muda harus mulai membangun citra, menunjukkan potensi diri,&lt;br /&gt;berupaya meraih simpati rakyat,  sehingga rakyat memilihnya sebagai wakil&lt;br /&gt;rakyat dan pemimpin.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Kaum muda juga perlu menggalang kekuatan dan solidaritas di antara sesama&lt;br /&gt;pemuda untuk membenahi rekruitmen politik. Saat ini solidaritas di kalangan&lt;br /&gt;aktivis pemuda masih terbelah dalam isu dan kepentingan sektoral. Kaum muda&lt;br /&gt;belum satu kata dalam menggalang visi kepemimpinan kaum muda di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;Di tengah itu semua, ada juga kabar menggembirakan dengan masuknya para&lt;br /&gt;aktivis muda ke ruang publik melalui partai politik. Boleh jadi ini jalan&lt;br /&gt;pintas untuk menampilkan kepemimpinan kaum muda. Namun ke depan masalah&lt;br /&gt;rekruitmen politik harus menjadi agenda besar kaum muda. Rekrutmen politik&lt;br /&gt;menjadi sangat penting karena merupakan indikator yang sensitif dalam&lt;br /&gt;melihat nilai-nilai dan distribusi pengaruh politik dalam sebuah masyarakat&lt;br /&gt;politik. Memperbaiki rekrutmen politik berarti memuluskan jalan kaum muda&lt;br /&gt;menuju pentas politik nasional. Kini saatnya bagi kaum muda untuk&lt;br /&gt;merealisasikan gagasan perubahan menuju Indonesia yang lebih baik.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4732987862050474421-4334692935910728842?l=yuniarkustanto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://yuniarkustanto.blogspot.com/feeds/4334692935910728842/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://yuniarkustanto.blogspot.com/2008/11/tantangan-kepemimpinan-muda.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4732987862050474421/posts/default/4334692935910728842'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4732987862050474421/posts/default/4334692935910728842'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://yuniarkustanto.blogspot.com/2008/11/tantangan-kepemimpinan-muda.html' title='Tantangan Kepemimpinan Muda'/><author><name>YUNIAR KUSTANTO</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14852318129907470724</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4732987862050474421.post-2574315883847873696</id><published>2008-11-23T06:04:00.001-08:00</published><updated>2008-11-23T06:04:48.584-08:00</updated><title type='text'>Kolom kosong bagi kepemimpinan muda</title><content type='html'>&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:tahoma,arial,helvetica,sans-serif;font-size:85%;"&gt;&lt;strong&gt;BENARKAH&lt;/strong&gt; pendapat banyak orang bahwa kita bisa bercermin pada pers. Artinya, apa pun yang terjadi di depan mata kita, pasti terpampang juga di media massa. Apalagi pers di zaman ini terasa begitu sakti, sepertinya para wartawannya punya jauh lebih banyak mata dan telinga bila dibandingkan dengan insan pers pada era sebelumnya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:tahoma,arial,helvetica,sans-serif;font-size:85%;"&gt;Maka, ketika saya membaca beberapa surat kabar nasional yang terbit di daerah dan di ibukota, saya menangkap bila sekarang ini mencuat kebutuhan akan kepemimpinan yang baru. &lt;em&gt;Headlin&lt;/em&gt; di sebuah media massa misalnya, jelas-jelas menyerukan bahwa "Kejagung Butuh Wajah Baru ". Media lainnya hadir dengan &lt;em&gt;headline &lt;/em&gt;yang juga meneriakkan kepentingan yang serupa; "Indonesia Butuh Birokrat Tangguh.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:tahoma,arial,helvetica,sans-serif;font-size:85%;"&gt;"Apa yang tersaji di televisi pun "setali tiga uang", ada talkshow yang membahas tentang peluang "wajah baru dalam kepemimpinan nasional kita". Stasiun televisi lainnya menyajikan debat yang menakar peluang para pemimpin muda yang harus bersaing keras dengan beberapa pemimpin sepuh untuk meraih kursi RI 1.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:tahoma,arial,helvetica,sans-serif;font-size:85%;"&gt;Wacana perlunya para pemimpin muda untuk maju ke depan memegang tampuk kepemimpinan nampaknya dianggap serius oleh para pemimpin sepuh (tak saja dalam usia, namun mereka memang sudah benarbenar kenyang makan asam-garam di dunia politik), sehingga tercipta iklim yang cukup kompetitif. Tentang hal ini, sebuah media massa di ibukota bahkan menurunkan sebuah analisis dengan judul yang cukup menegangkan: Menjelang "Perang Kurusetra".&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:tahoma,arial,helvetica,sans-serif;font-size:85%;"&gt;"Perang Kurusetra", dalam ingatan kolektif sebagian besar dari kita adalah perang saudara Bharatayuda. Apakah persaingan dalam Pemilu 2009 akan benar-benar seperti itu? Terutama di antara kalangan tua dan muda? Saya minta pendapat seorang teman tentang kemungkinan yang bakal terjadi.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:tahoma,arial,helvetica,sans-serif;font-size:85%;"&gt;"Ah, faktanya masih begitu-begitu saja," jawab teman saya. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:tahoma,arial,helvetica,sans-serif;font-size:85%;"&gt;"Begitu-begitu saja bagaimana?," kata saya mengejar jawabannya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:tahoma,arial,helvetica,sans-serif;font-size:85%;"&gt;"Masih nama-nama lama, mereka yang tergolong sebagai orang tua. Terus terang banyak yang merindukan tampilnya tokoh baru yang berusia muda," sahut si teman.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:tahoma,arial,helvetica,sans-serif;font-size:85%;"&gt;"Mungkin yang muda dianggap kurang pengalaman, sehingga kurang mampu membereskan keadaan."&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:tahoma,arial,helvetica,sans-serif;font-size:85%;"&gt;"Ah, siapa bilang anak muda tak becus menata masa depan? Bacalah lagi buku sejarah kita. Bung Karno, Bung Hatta, Sutan Syahrir, Jenderal Sudirman, dan masih banyak lagi. Mereka hadir di pentas nasional dalam usia muda. Dan siapa yang bilang bila Soekarno-Hatta tak bisa membereskan keadaan? Siapa yang membantah bila Sudirman muda tak bisa memimpin Angkatan Perang sebuah negara baru yang bernama Indonesia?" jawab teman saya dengan ekspresi wajah yang serius.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:tahoma,arial,helvetica,sans-serif;font-size:85%;"&gt;Saya menanggapi dengan menyodorkan fakta, bahwa sejarah juga merangkai kiprah para pemimpin yang berusia tua. Dan mereka bukan orang lemah. Eropa misalnya, bangkit dari kehancuran Perang Dunia II berkat sepak terjang para "singa" tua seperti Conrad Adenauer (Jerman Barat, 86 tahun), Charles De Gaulle (Prancis 71 tahun), sambil menambahkan, "Selain banyak pengalaman, mereka juga lebih bijak. Seperti pepatah yang berkata " age brings wisdom ".&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:tahoma,arial,helvetica,sans-serif;font-size:85%;"&gt;Di atas kertas, sebenarnya persaingan antara calon pemimpin muda dengan pemimpin sepuh tidak begitu terbuka, karena nama-nama dari kalangan muda juga belum banyak menonjol ke permukaan. Sedangkan beberapa nama yang mulai dimunculkan belum memiliki kredit point yang cukup melegakan. Paling tidak, mereka tak hanya tampil sekedar nama, namun sebaiknya juga disertai kapasitas dan prestasi sebagai orang yang bisa "membereskan keadaan".Hal seperti inilah yang menjadi modal keberhasilan Barrack Obama.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:tahoma,arial,helvetica,sans-serif;font-size:85%;"&gt;Apalagi selain bekal popularitas dari kiprah politik mereka pada era sebelumnya adanya beberapa faktor yang menjadi penyebab para pemimpin sepuh untuk terus melanjutkan kiprah politiknya, walau mereka sudah lengser dari tampuk kepemimpinan, yakni adanya dukungan massa yang berdasarkan keyakinan (&lt;em&gt;faith-based support&lt;/em&gt;), bukan dukungan berdasarkan fakta (&lt;em&gt;fact-based support&lt;/em&gt;) seperti yang ditunjukkan oleh para pemilih dari kalangan kelas menengah kita.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:tahoma,arial,helvetica,sans-serif;font-size:85%;"&gt;Saya menduga, apakah hal seperti ini yang membuat dukungan kepada Megawati (yang memiliki basis massa wong cilik, mereka yang memberikan dukungan berdasarkan faktor karisma) meningkat popularitasnya dalam beberapa polling, dibandingkan dengan SBY (yang memiliki massa kelas menengah, yang memberikan dukungan berdasarkan fakta keberhasilannya) yang justru menurun popularitasnya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:tahoma,arial,helvetica,sans-serif;font-size:85%;"&gt;Teman saya malah lebih antusias berkata, "Aku iseng saja bertanya pada para sopir angkot. Siapa yang akan mereka pilih pada Pilgub nanti? Me-reka bilang akan memilih calon dari PDIP. Yang mengejutkan, pilihan mereka hanya disebabkan karena ingin membalas jasa Bung Karno sebagai orang yang berjasa besar kepada bangsa dan negara," katanya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:tahoma,arial,helvetica,sans-serif;font-size:85%;"&gt;Apakah ini berarti filosofi dan konsep dukungan pada kekuasaan perlu ditafsirkan kembali? Situasi yang terjadi pada pentas sosial-ekonomi dan politik kita akhir-akhir ini menunjukkan bahwa kemampuan para elit untuk bertahan (&lt;em&gt;survival of elites&lt;/em&gt;) akan ditentukan oleh seberapa jauh mereka mampu membuktikan komitmennya untuk menyejahterakan masyarakat dengan mengatasi berbagai krisis yang terjadi.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:tahoma,arial,helvetica,sans-serif;font-size:85%;"&gt;"Benar. Bukankah hidup adalah perbuatan?" sambut teman saya sambil mengutip slogan dalam sebuah iklan politik di televisi.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:tahoma,arial,helvetica,sans-serif;font-size:85%;"&gt;"Ya. Inilah kolom kosong yang masih perlu diisi oleh para pemimpin muda yang ingin maju ke depan. Mereka tak cukup tampil dan memperkenalkan diri lewat iklan. Bila selama ini mereka tidak berbuat jasa kepada bangsa dan negara, apakah mereka bisa menanamkan keyakinan pada rakyat banyak untuk memilihnya pada pemilu mendatang?"&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4732987862050474421-2574315883847873696?l=yuniarkustanto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://yuniarkustanto.blogspot.com/feeds/2574315883847873696/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://yuniarkustanto.blogspot.com/2008/11/kolom-kosong-bagi-kepemimpinan-muda.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4732987862050474421/posts/default/2574315883847873696'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4732987862050474421/posts/default/2574315883847873696'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://yuniarkustanto.blogspot.com/2008/11/kolom-kosong-bagi-kepemimpinan-muda.html' title='Kolom kosong bagi kepemimpinan muda'/><author><name>YUNIAR KUSTANTO</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14852318129907470724</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
